Lingkungan yang dulu tenang dan bersih perlahan berubah menjadi kawasan penuh polusi. Udara terasa sesak, sementara masyarakat dipaksa hidup dalam kecemasan terhadap kesehatan keluarga mereka sendiri.
Bukan hanya udara yang tercemar, rumah-rumah warga pun ikut menjadi korban. Seng atap cepat berkarat, bocor, dan rusak akibat dampak aktivitas industri yang terus berlangsung. Rumah yang dibangun dari hasil kerja keras bertahun-tahun kini perlahan hancur di tanah mereka sendiri.
Pengurus Partai Prima Maluku Utara, Asri Muhammad, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh berjalan dengan mengorbankan masyarakat kecil dan lingkungan hidup.
“Di balik kekayaan besar yang keluar dari tanah Halmahera, torang masyarakat Lelilef justru hidup dengan debu, polusi, dan rasa takut setiap hari. Jangan sampai rakyat hanya jadi penonton di tanahnya sendiri,” tegas Asri.
Menurutnya, kondisi yang dialami warga bukan lagi persoalan biasa, melainkan keadaan darurat lingkungan yang harus segera ditangani pemerintah dan perusahaan.
“Kalau investasi terus berjalan tetapi masyarakat sakit, rumah rusak, dan lingkungan hancur, lalu sebenarnya siapa yang menikmati pembangunan ini?” tambahnya.
Asri juga meminta pemerintah daerah dan pihak perusahaan, termasuk PT Indonesia Weda Bay Industrial Park, segera mengambil langkah nyata terhadap pencemaran debu dan kerusakan rumah warga.
Salah satu warga Lelilef mengaku kondisi saat ini sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Debu kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Setiap pagi torang sapu debu terus. Baru beberapa jam, rumah sudah kotor lagi. Anak-anak juga sering batuk dan sesak,” ungkap seorang warga.
Warga lainnya juga mengeluhkan seng rumah mereka yang cepat rusak akibat dampak lingkungan dari aktivitas industri.
“Seng cepat sekali karat dan bocor. Padahal belum terlalu lama diganti. Kalau hujan, air mulai masuk di dalam rumah,” keluh warga lainnya.
Masyarakat Lelilef menegaskan mereka tidak menolak pembangunan maupun investasi. Namun mereka berharap perusahaan dan pemerintah tidak menutup mata terhadap penderitaan warga yang hidup tepat di sekitar kawasan industri.
Di tengah gemerlap tambang dan derasnya arus investasi, masyarakat Lelilef kini hanya berharap satu hal sederhana: udara yang bersih, rumah yang layak, dan masa depan yang tidak dikorbankan atas nama pembangunan.
Redaksi: Iswan
Social Footer